keLaPaRan memBumIng…….????!!!!!

Kelaparan adalah suatu keadaan di mana tubuh masih memerlukann makanan, biasanya saat perut kosong baik dengan sengaja maupun tidak sengaja untuk waktu yang relatif lama yang dialami oleh seseorang. Kondisi seseorang dimana kekurangan gizi dalam jumlah besar untuk jangka waktu yang cukup lama, hal ini dikarenakan adanya konflik politik, kemiskinan maupun kekeringan cuaca di suatu daerah tertentu.

Penyebab terjadinya kelaparan antara lain ;

  • Penyebab pertama yang sering dikemukakan adalah faktor alam. Secara umum tanah daerah tropis yang minim curah hujan salah satu faktor pendukung terjadinya kelaparan. Kadang curah hujan banyak tetapi dalam waktu yang sangat singkat. Akibatnya, hujan itu bukan menjadi berkat tetapi mendatangkan bencana banjir di daerah tersebut. Seperti yang terjadi di NTT, beberapa tahun belakangan ini tidak ada hujan. Tanah Timor menjadi kering kerontang sehingga tanaman jagung yang digunakan sebagai penunjang ekonomi keluarga sekaligus sebagai makanan sehari-hari rakyat gagal untuk dipanen. Akibatnya, banyak petani di NTT, termasuk anak-anak, terutama yang tinggal di daerah pelosok, memakan apa saja demi mempertahankan hidup mereka masing-masing. Gizi yang kurang dan bahkan buruk akan memperburuk pertumbuhan fisik dan fungsi-fungsi otak terutama anak kecil. Kalau ini terjadi, masa depan anak-anak ini dipastikan akan sangat kelam dan buram.
  • Penyebab kedua lebih pada faktor manusiawi yaitu berasal dari kultur sosial masyarakat setempat. Seperti masyarakat di NTT kebanyakan bersifat one dimensional, yakni masyarakat yang memang sangat tergantung pada satu pekerjaan saja. Banyak orang NTT menanam makanan secukupnya saja, artinya hasil panen itu cukup untuk menghidupi satu keluarga sampai masa panen berikutnya. Belum ada pemikiran untuk membudidayakan hasil pertanian demi mendapatkan keuntungan atau demi meningkatkan pendapatan keluarga. Saat ini belum disaksikan adanya budaya alternatif yaitu memanfaatkan halaman rumah untuk menanam sayur-mayur demi menunjang kebutuhan sehari-hari untuk keperluan berikutnya. Sebenarnya di NTT ada banyak hasil bumi andalan yang bisa dibudidayakan. Misalnya, berlimpahnya tanaman asam yang bisa didapat dengan gratis di hutan. Ada juga kelapa sawit yang cukup potensial. Sektor peternakan seperti babi, sapi, kambing atau ayam semestinya bisa dikembangkan secara serius untuk menunjang kehidupan keseharian dan demi pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan di NTT.
  • Penyebab ketiga masih berkisar soal manusiawi tetapi kali ini lebih berhubungan dengan persoalan struktural, yaitu kurangnya perhatian dari pemerintah. Pola relasi rakyat dan pemerintah masih vertikal. Rakyat adalah hamba, aparat pemerintah adalah penguasa. Jadi, rakyat dianggap bodoh, aparat sering menempatkan diri sebagai orang yang tahu segala-galanya daripada masyarakat. Oleh karena itu pemerintah harus menentukan semuanya. Pola vertikal ini bukan saja menghilangkan kontrol sosial rakyat terhadap pejabat-pejabat, tetapi juga membuka akses terhadap penindasan dan ketidakadilan dan yang sangat berbahaya, menciptakan godaan untuk menyuburkan budaya korupsi. Dan memang, media masa lokal dan nasional telah memberitakan bahwa hampir semua pejabat kunci di propinsi NTT sedang dipraperadilankan karena tersangkut kasus korupsi. Tentu saja tidak semua aparat dan pejabat seperti itu! Dalam pengalaman kami, pejabat-pejabat setempat cukup kooperatif, kecuali salah satu camat yang berusaha menutup-nutupi kasus busung lapar di daerahnya. Terlepas dari itu semua nampaknya masyarakat membutuhkan pendampingan agar mereka memahami hak-hak individu dan hak-hak sosial mereka sebagai warganegara.

Pentingnya kebiasaan hidup sehat dan pola makan gizi seimbang sehari-hari belum kebutuhan yang dirasakan sebagaian besar masyarakat untuk saat ini. Karena itu upaya perbaikan gizi tidak cukup dengan penyediaan sarana tetapi juga perlu upaya perubahan sikap dan perilaku. Masalah gizi, baik masalah gizi kurang dan gizi lebih, disebabkan banyak faktor yang saling terkait. Masalah gizi kurang yang dapat menjadi gizi buruk, misalnya bukan hanya karena anak kekurangan makanan, tetapi juga karena penyakit yang diderita.
Pola pengasuhan anak juga sangat menentukan status gizi dan kesehatan anak, demikian juga kualitas pelayanan kesehatan dasar yang berpihak pada orang miskin. Berbagai sebab tadi sangat ditentukan oleh situasi ekonomi rakyat, keamanan, pendidikan dan lingkungan hidup.Masalah gizi tidak dapat ditangani dengan kebijakan dan program sepotong-sepotong dan jangka pendek serta sektoral, apalagi hanya ditinjau dari aspek pangan. Dari pengalaman negara berkembang yang berhasil mengatasai masalah gizi secara tuntas dan lestari seperti
Thailand, Tiongkok dan Malaysia diperlukan peta jalan kebijakan jangka pendek dan jangka panjang. Masing-masing diarahkan memenuhi persediaan pelayanan dan menumbuhkan kebutuhan atau permintaan akan pelayanan.
Untuk itu diperlukan kebijakan pembangunan di bidang ekonomi, pangan, kesehatan dan pendidikan, serta keluarga berencana yang saling terkait dan mendukung, yang secara terintegrasi ditujukan untuk mengatasi masalah gizi (kurang dan lebih) dengan meningkatkan status gizi masyarakat.

Leave a Comment